Definisi Nafs dan Ma’rifat an-Nafs
Banyak definisi yang diberikan oleh para filosof dan urafa tentang nafs. Sebagian mereka dalam menjelaskan hakikat nafs terdapat empat belas mazhab dan pendapat. Dan sebagian yang lain menganggap bahwa dalam mengekplanasi realitas nafs terdapat empat puluh mazhab dan pendapat. Dan sebagian lain berkata bahwa, “para qudama dan ulama kiwari senantiasa masygul dan berselisih pendapat tentang definisi nafs natiqah ini, mereka beranggapan bahwa pendapat dan definisi yang disampaikan hingga kini ada seratus pendapat.” Tapi yang benar adalah bahwa nafs merupakan substansi yang kosong dari materi dan sifat-sifat materi dan ia menempel pada badan; menempel maksudnya di sini adalah bahwa nafs bagi badan adalah pengendalli dan pengatur, dan tingkatan badan adalah tingkatan turunan dari nafs. Selain definisi yang disebutkan paling akhir, barangkali keliru atau mereka harus menakwilkan nafs sebagaimana definisi ini. (‘Uyun Masâil Nafs wa Syarh Ân, hal. 16) Adapun definisi ihwal ma’rifat an-nafs atau mengenal diri sebagaimana yang disebutkan pada awal-awal pembahasan ini, bukanlah sekedar mengenal anggota tubuh dan panca indra. Atau berkaitan dengan pengetahuan akan nama seseorang, nama ayah, atau tanggal dan tempat lahirnya. Ma’rifat an-nafs lebih banyak berkenaan dengan dimensi spiritual, esoteris dan ruhani seseorang.
Urgensi Mengenal Diri
Semakin urgen sesuatu nilai dan harganya semakin melambung tinggi. Terlebih apabila nilai dan harga barang tersebut menyangkut sukses tidaknya seseorang, berjaya tidaknya seseorang, bahagia tidaknya seseorang dan paling akhir, selamat tidaknya seseorang dalam kehidupannya. Manusia yang dual-dimensi, dimensi ragawi dan dimensi ruhani, adalah makhluk yang memiliki warna dan corak Ilahi. Tentu apabila ia tidak mengaktualkan potensi yang diberikan Tuhan kepadanya, sekali-kali ia tidak akan menjelma menjadi manusia unggul dan sempurna. Setiap manusia berhajat kepada kesempurnaan. Fitrah manusia menegaskan bahwa ia cinta dan kasih kepada kesempurnaan. Apabila kita melakukan kontra-predikasi (naqsh al-haml) atas diktum di atas, barang siapa yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya, menjadi barang siapa yang tidak mengenal dirinya tidak mengenal Tuhannya. Karuan saja ia tidak akan pernah meraih derajat kesempurnaan. Manusia untuk meraup kesempurnaan dan mentransendental, mau tidak mau ia harus mengenal tipologi, karakteristik dan segala potensi yang diberikan Tuhan kepadanya. Lantaran dunia kiwari dengan kerusakan moral dan kejahilan akan pengenalan diri telah terjerembab dalam jurang alienasi diri. Mereka telah melupakan diri dan Tuhannya. Mereka tak mengenal dirinya sehingga tidak sampai gilirannya untuk mengenal Tuhannnya. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial darimana datangnya, kemana jalan yang ia tuju dan untuk tujuan apa ia ada tak akan pernah dapat terjawab bagi orang-orang seperti ini. Oleh karena itu, pembahasan pengenalan diri ini menemukan urgensinya apabila insan dengan mengaktualkan potensi yang dimilikinya maka ia akan dapat meraih kesempurnaan insani dan maknawi yang akan menghantarkannya kepada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Tentu saja kali ini kita tidak lagi berada pada arsy dan tataran pembahasan argumentasi pembuktian wujud Tuhan dan wujud judgment day (hari kiamat). Pembahasan kita kali ini adalah sequel dari seri argumentasi pembahasan tentang wujud Tuhan. Dimana sebelumnya lebih banyak menitikberatkan pada pembahasan sairi afaki. Sebagai pelengkap, di sini kita akan mengambil manfaat dari cahaya hadis yang memotivasi dan mendorong setiap orang untuk mengenal diri dan kediriannya. Di nukil dari Sayidina Ali Ra bahwa ia bersabda: “Pengenalan terhadap diri merupakan sebaik-baik dan seuntung-untungnya pengenalan. (Mîzân al-Hikmah, vol. 6, hal. 142, no. 11923) Atau dari hadis yang lain, “Puncaknya pengetahuan (atau pengenalan) manusia adalah pengenalan terhadap dirinya.” (Mîzân al-Hikmah, vol. 6, hal. 141, no. 11902)
Kegunaan Mengenal Diri
Sangat banyak kegunaan dan manfaat dari makrifat diri ini. Di sini kami akan menyebutkan empat hal saja dari selaksa manfaat dan keutamaan yang ada tentang kegunaan pengenalan diri ini.
Pertama, kegunaan atau faidah praktis dari pengenalan diri adalah memberikan peluang kepada manusia untuk lebih familiar terhadap kemampuan dan bakatnya. Hal ini akan banyak membantu seseorang dalam hidupnya, misalnya mencegahnya dari memilih bidang studi atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan bakat yang diberikan Tuhan kepadanya.
Kedua, di samping itu pengenalan diri sangat bernilai karena manusia dapat menyadari bahwa ia bukanlah sosok atau maujud yang mengada dengan sendirinya atau wujudnya tidaklah mandiri (self-existent). Hal ini penting, lantaran akan membantu seseorang untuk memahami bahwa sehebat apa pun ia atau setinggi apa pun kedudukan dan status sosialnya, toh ia hanyalah seorang yang berhajat dan berkeinginan, bahkan dalam terminologi Mulla Shadra, sifat berhajat dan berkeinginan pada manusia adalah bersifat dzati (faqr adz-dzati) dimana esensi (dzat) manusia adalah butuh dan berhajat kepada Dia, yang wujudnya secara dzati kaya dan tidak memiliki hajat kepada apa dan siapa pun (ghani adz-dzati).
Ketiga, Pengenalan diri sangat efektif bagi sistem dan mekanisme pengembangan diri; bahkan seseorang dapat mengatakan bahwa makrifat diri atau mengenal diri mirip dengan “bio-feed back therapies” yang dikembangkan oleh banyak fisikawan di beberapa negara Barat yang menganjurkan kepada para pasiennya yang aktif dalam proses healing (penyembuhan) atau kepada pasien yang telah angkat tangan dari perawatan medikal moderen.
Keempat, mengenal diri akan membantu seseorang memahami bahwa ia tidak tercipta secara kebetulan (by chance). Jika kita menginternalisasi dan menghayati akan keberadaan kita, diri kita, dengan argumen-argumen atau bahkan tanpa memerlukan argumen, maka kita akan sampai kepada kesimpulan yang tak-terelakkan bahwa Tuhanlah yang mencipta seluruh keberadaan. Kita tidak mewujud dengan sendirinya atau hanya karena persemaian antara sperma dan ovum dari kedua orang tua kita. Manusia secara natural senantiasa mencari alasan keberadaannya. Ia akan melakukan monologue pada dirinya ihwal Darimanakah kedatanganku?Ke mana langkah yang aku tuju? Untuk tujuan apa keberadaanku? Dengan mengenal diri, ia akan menuai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan eksistensial ini.
Apakah Nafs itu Ada?
Pertanyaan ontologis yang mendasar yang harus diajukan di sini adalah apakah wujud nafs itu dapat dibuktikan secara filosofis dan logis. Atau sederhananya, apakah nafs itu ada dan eksis dalam diri kita. Ibn Sina dalam berargumen tentang wujud nafs ia mengemukakan beberapa dalil dan demonstrasi. Dalil pertama, perhatian manusia kepada Akunya sebagai sebuah realitas selain badan dan raga. Penalaran dan argument Ibn Sina ini dikenal sebagai “argumen manusia yang terangkum dalam ruang.” [1] Ia berkata, setiap manusia pada masa meleknya dan bahkan pada saat tidur atau mabuknya, ia mengenal dirinya. Dan ia tidak pernah lalai dan alpa dari realitas “Aku” ini. Sekarang mari kita melihat penjelasan Ibn Sina tentang burhan yang dimaksud ini: “Perhatikan diri Anda secara seksama! Apakah ketika Anda berada dalam kesehatan yang normal dan bahkan dalam ketika Anda menderita sakit, sepanjang Anda tidak kehilangan ingatan dan memori, sekali-kali Anda tidak akan pernah merasa kehilangan dari diri Anda? Artinya sedemikian Anda tahu bahwa Anda ada dan wujud? Aku tidak percaya kepada ingatan semacam ini, bahkan seseorang yang tertidur dan atau mabuk sementara ia tidak tahu siapa dirinya, kendati perhatian kepada dirinya tidak terlintas dalam pikirannya. Dalil kedua, Ibn Sina menegaskan bahwa nafs bukanlah badan. Penalaran Ibn Sina bersandar kepada landasan bahwa manusia dapat menemukan dirinya sebagai sesuatu selain badan. Oleh karena itu, manusia selain dari badan, ia memiliki nafs non-jasmani. Dalam menguraikan inferensi ini, Ibn Sina menjelaskan: Hakikat dan realitas nafs yang terdapat pada diri manusia dapat dibuktikan dengan jalan efek dan perbuatan-perbuatan. Seperti dengan memperhatikan bahwa manusia memiliki gerak, perasaan dan mencerap, kita bertanya kepadanya bahwa sumber gerakan dan perasaan ini darimana datangnya? Sangatlah jelas bahwa gerakan tidak dapat bersumber dari jasmani dan raga manusia, lantaran apabila raga dan jasmani dapat menjadi sumber gerakan, maka seluruh raga dan jasmani mampu bergerak dengan sendirinya, sementara kenyataannya tidaklah demikian. Bagaimana mungkin kita menganggap gerakan bersumber dari jasmani, sementara jasmani dan mixture jasmani, kadangkala ketika bergerak, menahan manusia dari bergerak pada sebuah arah khusus dan kadangkala juga menahan manusia dari gerakan aslinya. Oleh karena itu, jasmani dan mixture jasmani dan tabiat jasmani tidak dapat dianggap sebagai sumber gerakan kehendak manusia. Maka dalam diri manusia haruslah terdapat sesuatu yang menjadi sumber gerakan dan itulah nafs yang disebut manusia sebagai “diri”.
Klasifikasi Nafs
